Cedera Tidak Menimbulkan Rasa Sakit Lagi

Testimoni » Cedera Tidak Menimbulkan Rasa Sakit Lagi

Bermain bola adalah hal yang tidak bisa saya lewatkan dalam hidup saya. sejak masih sekolah saya sering mengikuti turnamen-turnamen antar kampung. Bahkan saya sempat  masuk ke SSB (Sekolah Sepak Bola) di kampung tetangga. Karena kecintaan saya dengan olah raga yang satu ini, saya selalu nongkrong malam-malam di depan TV saat ada pertandingan-pertandingan live seperti Liga Champion.

 

Hingga saya menikah dan mempunyai satu anak, saya masih tetap mencintai sepak bola. Bisa dibilang saya fanatik, sampai-sampai istri saya bilang saya ini orang yang kecanduan bola. Untung saja saya masih ingat mencari nafkah untuk keluarga.

 

Tiap malam minggu, saya dan teman-teman kantor, tidak pernah melewatkan akhir pekan di lapangan futsal. Dari pukul 11.00 malam hingga pukul 1 dini hari. Kami berkeringat ria untuk memuaskan rasa cinta terhadap olah raga yang paling banyak penggemarnya ini. Biasanya saya bermain secara rolling, kadang jadi bek, kiper, atau penyerang.

 

Berulang kali olahraga ini menyebabkan saya cedera, tapi tetap saja saya tidak pernah kapok. Entah memang karena sifat fanatik itu telah mendarah daging atau entah pula karena ketidakpedulian saya. hingga suatu kali saya tersadar ada bagian kaki saya yang terasa sakit ketika digunakan untuk menelapak di lantai.

 

Saya ingat-ingat betul, ternyata mata kaki saya pernah terhantam kaki teman saya sewaktu futsal. Waktu itu say tidak peduli, saya biarkan saja. Dalam pikiran saya, paling beberapa hari juga sembuh. Tetapi cedera saya merasa terganggu ketika rasa sakit saya tak kunjung hilang. Rasa sakit itu membuat saya terpincang saat berjalan.     

 

 

Perubahan pun mulai saya rasakan sejak saya selalu memakai kristal penyembuhan. Saya sengaja memesannya dari www.terapikristal.com, semula  karena kejengkelan saya terhadap rasa sakit yang tak kunjung hilang. Namun sekarang rasa sakit itu sudah tidak saya rasakan lagi. Bahkan saya kadang lupa kalau pernah mengalami cedera di mata kaki.

 

 

 

Abdul Rahman – Purwokerto